NURFITRIANA: Faktor-faktor penyebab Distribusi Organisme dan Keanekaragaman Popolasi Di Daerah Intertidal

Kamis, 21 Juni 2012

Faktor-faktor penyebab Distribusi Organisme dan Keanekaragaman Popolasi Di Daerah Intertidal



Zona intertidal adalah zona littoral yang secara reguler terkena pasang surut air laut, tingginya adalah dari pasang tertinggi hingga pasang terendah.  Didalam wilayah intertidal terbentuk banyak tebing-tebing, cerukan, dan gua, yang merupakan habitat yang sangat mengakomodasi organisme sedimenter.  Morfologi di zona intertidal ini mencakup tebing berbatu, pantai pasir, dan tanah basah / wetlands.
Keragaman faktor lingkungannya dapat dilihat dari perbedaan (gradient) dari faktor lingkungan secara fisik mempengaruhi terbentuknya tipe atau karakteristik komunitas biota serta habitatnya. Sejumlah besar gradien ekologi dapat terlihat pada wilayah intertidal yang dapat berupa daerah pantai berpasir, berbatu maupun estuari dengan substrat berlumpur. Perbedaan pada seluruh tipe pantai ini dapat dipahami melalui parameter fisika dan biologi lingkungan yang dipusatkan pada perubahan utamanya serta hubungan antara komponen biotik (parameter fisika-kimia lingkungan) dan komponen abiotik (seluruh komponen makhluk atau organisme) yang berasosiasi di dalamnya. Dari keregaman factor tersebut maka dibutuhkan suatu adaptasi khusus yang harus dimiliki oleh biota yang berada pada daerah intertidal untuk dapat terus bertahan dalam kondisi lingkungan yang cukup ekstrim dimana beberapa parameter lingkungan seperti suhu, salinitas, kadar oksigen, dan habitat dapat berubah secara signifikan.
Faktor Penyebab Distribusi Zonasi Pada Daerah Intertidal  ada berbagai faktor yang menyebabkan adanya berbagai macam distribusi pada daerah intertidal. Pada dasarnya faktor tersebut dibagi menjadi dua bagian besar yang saling terkait yaitu:
 1. Faktor fisika. Faktor ini merupakan faktor yang sangat berpengaruh pada ekosistem intertidal. Akibat adanya pasang surut maka menyebabkan faktor pembatas pada daerah ini menjadi lebih ekstrim. Faktor pembatas tersebut yaitu kekeringan, suhu, dan sinar matahari ketiga faktor tersbeut saling terkait. Jika laut surut maka daerah intertidal terekspose oleh sinar matahari, akibatnya suhu meningkat. Suhu yang meningkat menyebabkan penguapan dan dampaknya daerah menjadi kering.
2. Faktor biologis. Faktor ini sangat tergantung dari faktor fisik perairan. Organisme berusaha untuk menyesuaikan diri pada keadaan yang sangat ekstrim tersebut. Ada berbagai macam cara organisme menyesuaikan diri salah satunya dengan mengubur diri atau memodifikasi bentuk cangkang agar dapat hidup pada derah yang kering.

Ekologi  Zona Intertidal
Daerah pasang surut adalah sistem model penting untuk studi ekologi, khususnya di pantai berbatu gelombang-menyapu. Wilayah ini berisi keanekaragaman spesies yang tinggi, dan zonasi diciptakan oleh pasang surut menyebabkan spesies berkisar untuk dimampatkan menjadi band yang sangat sempit. Hal ini membuat relatif sederhana untuk mempelajari spesies di seluruh rentang lintas-pantai mereka, sesuatu yang bisa sangat sulit, misalnya, habitat darat yang dapat meregang ribuan kilometer. Masyarakat di pantai yang tersapu gelombang juga memiliki perputaran yang tinggi akibat gangguan, sehingga mungkin untuk menonton suksesi ekologi selama beberapa tahun daripada dekade.
Karena tepi pantai ini bergantian tertutup oleh laut dan terkena udara, organisme hidup di lingkungan ini harus memiliki adaptions baik untuk kondisi basah dan kering. Bahaya termasuk menjadi hancur atau terbawa oleh gelombang kasar, paparan suhu sangat tinggi, dan pengeringan. Khas penduduk pantai berbatu pasang surut termasuk bulu babi, anemon laut, teritip, chitons, kepiting, isopoda, kerang, bintang laut, dan moluska banyak gastropoda laut seperti limpets, whelks, dan bahkan gurita.
Lautan mengandung sumber – sumber mineral yang jumlahnya sangat berlimpah. Air laut sendiri banyak mengandung zat – zat yang terlarut di dalamnya yang merupakan sumber alam yang pertama kali dikelola oleh manusia. Beberapa metode telah dikembangkan dalam mengelola lautan, sehingga pada waktu ini dapat dilakukan pengekstrakan bermacam – macam zat kimia dari air laut. Sodium chlorida (NaCl) adalah ekstarakan dari air laut yang paling besar, biasanya digunakan pada perusahaan – perusahaan kimia dalam memproduksi klorida dan sodium hidroksida. Magnesium dan bahan bromin adalah bahan lain yang terdapat dalam air laut yang mempunyai nilai ekonomi penting (Hutabarat dan Evans, 1985).
Air laut selalu dalam keadaan bergerak. Gerakan air laut disebabkan oleh beberapa faktor, seperti angin yang menghembus di atas permukaan laut, pengadukan yang terjadi karena perbedaan suhu air dari dua lapisan, perbedaan tinggi permukaan laut, pasang surut dan lain – lain. Gerakan air laut ini sangat penting bagi berbagai proses kehidupan di laut, baik itu biologi datau hayati maupun non biologi atau nir hayati (Romimohtarto dan Juwana, 2001).
Faktor-faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap kehidupan nematoda interstitial sebagai hewan bentos adalah :

1. Parameter Fisika
1.1 Suhu
Suhu di laut adalah sala satu faktor yang amat penting bagi kehidupan organisme di lautan karena suhu mempengaruhi baik aktivitas metabolisme maupun perkembangbiakan dari organisme – organisme tersebut (Hutabarat dan Evans, 1985). Kecepatan dari metabolisme pada kondisi poikilotermal sangat bergantung pada suhu. Menurut Vinberg (1956) penggunaan oksigen oleh ikan merupakan indeks dari metabolismenya dan telah ditemukan hubungan antara temperatur dan suhu pada kurva normal oleh knogh (Alabaster, 1996).
1.2  Kecerahan
Kecerahan adalah sebagian cahaya yang diteruskan ke dalam air dan dinyatakan dalam persen (%) dari beberapa panjang gelombang di daerah spektrum yang terlihat cahaya yang melalui lapisan sekitar satu meter, jatuh agak lurus pada permukaan air. Kemampuan cahaya matahari untuk menembus sampai pada dasar perairan dipengaruhi oleh kekeruhan air, kekeruhan air sendiri dipengaruhi oleh benda – benda halus yang disuspensikan, seperti lumpur dan jasad renik serta warna air (Ghuffran, 2007).
Bagi hewan laut, cahaya mempunyai pengaruh terbesar secara tidak langsung, yakni sebagai sumber energi untuk proses fotosintesis tumbuh – tumbuhan yang menjadi tumpuan hidup mereka karena menjadi sumber makanan. Cahaya juga merupakan faktor penting dalam hubungan dengan perpindahan populasi hewan laut (Romimohtarto dan Juwana, 2001).
1.3  Pasang Surut
Pasang surut terjadi partama – tama karena gaya tarik bulan. Bumi berputar bersama kolam air dipermukaannya dan menghasilkan dua kali pasang surut dalam 24 jam di banyak tempat di bumi. Berbagai pola gerakan pasang surut ini terjadi karen perbedaan bentuk dasar laut oleh karena banyak hal lain lagi. Gaya tarik serupa terjadinya oleh matahari, namun masih tidak sebanding dengan gaya tarik yang disebabkan oleh bulan (Romimohtarto dan Juwana, 2001).
Pasang surut adalah naik atau turunnya posisi permukaan perairan atau samudera yang disebabkan oleh pengaruh gaya gravitasi bulan dan matahari (Anonymous, 2009)
1.4 Gelombang
Gelombang selalu menimbulkan sebuah ayunan air yang bergerak tanpa henti – hentinya pada lapisan permukaan laut dan jarang dalam keadaan sama sekali diam. Hembusan angin sepoi – sepoi pada cuaca yang terang sekalipun sudah cukup untuk dapat menimbulkan riak gelombang. Sebaliknya dalam keadaan dimana terjadi abdai yang besar dapat menimbulkan suatu gelombang besar yang dapat mengakibatkan suatu kerusakan hebat pada kapal – kapal (daerah – daerah pantai) (Hutabarat dan Evans, 1985).
Gelombang sebagian ditimbulkan oleh dorongan angin permukaan laut dan sebagian lagi oleh tekanan tangensial pada partikel air. Angin yang bertipu dipermukaan laut mula – mula menimbulkan riak gelombang. Jika kemudian angin berhenti bertiup maka riak gelombang akan hilang dan permukaan laut akan rata kembali (Romimohtarto dan Juwana, 2001).

2.3 Parameter Kimia
2.3.1 PH

PH (Pursance negatif de H) yaitu logaritma dari kepekaan ion – ion Hidrogen yang terlepas dalam suatu cairan air murni (H2O) berasosiasi sempurna sehingga memiliki ion H+ dan ion H- dalam konsentrasi yang sama, dan dalam keadaan demikian PH air murni = 7. semakin tinggi konsentrasi ion H+ akan semakin rendah konsentrasi ion OH- dan pH <>2 biasanya mempunyai pH lebih rendah dari 7 dan bersifat asam (Ghuffran, 2007).
Perairan dengan pH <> 9,5 merupakan perairan yang sangat basa dan dapat menyebabkan kematian dan mengurangi produktivitas perairan. Perairan laut maupun pesisir memiliki pH relatif stabil antara 7,7 – 8,4. pH dipengaruhi oleh kapasitas buffer yaitu adanya garam – garam karbonat dan bikarbonat yang dikandungnya (Boyd, 1982).

2.3.2 Salinitas
Salinitas adalah konsentrasi seluruh larutan garam yang diperoleh di dalam air laut. Konsentrasi garam – garam jumlahnya relatif sama dengan dalam setiap contoh air atau air laut. Salinitas air dipengaruhi terhadap tekanan osmotik air. Semakin tinggi salinitas , akan semakin besar pula tekanan osmotiknya sedangkan pada lingkungan akan seimbang (isoosmotik) pada salinitas 28 ppt (Ghuffran, 2007).
Sifat osmotik dari air laut berasal dari seluruh jumlah garam – garaman yang ada di laut. Cara yang paling mudah untuk mengukur salinitas yaitu dengan menggunakan refraktometer berkalibrasi yang dibaca sebagai salinitas atau hidrometer berkalibrasi yang dibaca standard dan mengadakan koreksi untuk suhu air yang sebenarnya. Metode ini kurang teliti daripada titrasi, tetapi memadai untuk banyak tujuan (Mc Connaughey dan Zottoli, 1983).

2.3.3 DO
Oksigen terlarut merupakan suatu faktor yang sangat penting di dalam ekosistem air, terutama sekali dibutuhkan untuk proses respirasi bagi sebagian besar organisme air. Umumnya kelarutan oksigen dalam air sangat terbatas dibandingkan dengan kadar oksigen di udara yang mempunyai konsentrasi sebanyak 21 % Volum, air hanya mampu menyerap oksigen sebanyak 1 % volume saja (Nybakken, 1988).
Konsentrasi oksigen terlarut yang aman bagi kehidupan di perairan, sebaiknya harus di atas titik kritis dan tidak terdapat bahan lain yang bersifat racun, konsentrasi oksigen minimum sebesar 2 mg/l cukup memadai untuk menunjang secara normal komunitas akuatik di perairan (Pescod, 1973).
Faktor-faktor lain selainyang telah disebutkan di atas yaitu : adanya substrat yang berbeda-beda yaitu, pasir, batu dan lumpur menyebabakan perbedaan fauna dan struktur komunitas di daerah intertidal.seperti pantai intertidal berbatu, pantai pasir juga disusun oleh faktor-faktor fisik yang sama, tetapi kepentingan relatif dari faktir faktor ini adalah dalam menyusun kominitas dan pengaruhnya terhadap substrat yang berbeda. Mungkin faktor fisik yang paling penting yang mengatur kehidupan di pantai pasir ini adalah gerakan ombak dan pengaruh yang menyertainya pada ukuran partikel ( Nybkken, 1988 ).

Jenis-jenis biota yang hidup di Zona Intertidal :


Pantai berbatu
Pantai berpasir
Pantai berlumpur
Upper zone
Alga yang menjalar
Cyanobacteria (bakteri hijau biru)
cacing kecil,
periwinkles, kepiting, rajungan
Scylla olivacea, Scylla serrata dan Scylla paramamosain dimana Scylla olivacea
nematoda dan oligochaetes
Middle zone
Bernakel, Kerang
terkadang tiram, bintang laut, mussels, kepiting, bernacles, isopods, Mata Kebo (Turbo brunnes), Cephalopoda (cumi-cumi, gurita dan notilus), Bivalvia (kijing, tiram dan kepah), Crustacea, nekton
Scaphopoda (keong gading), Crustacea, Cacing policaeta, bivalva, Donax sp. Mytilus edulis,
Harpacticoid copepoda, mystacocarid, nematoda, oligochaetes dan turbelaria
lower zone
alga merah, organisme penghasil kapur, kebanyakan berbentuk menjalar, terkadang kelp yang lebat (alga coklat) tunicata (sea squirt), Chiton, lely laut, Asterias asterina, sun star, Brittle star (Ophiura), bulu babi(stongylocentrotus, nekton
ikan badut, ikan lepu, ikan barakuda, ikan baronang, botana, Kepe strip delapan, Kepe coklat,kepe monyong zebra, kambingan, Platak asli, Brown Kelly, Brajanata, keling kalong, Kenari biasa, Kerapu layar, Dokter ular bibir merah, Dokter neon, Zebra ekor hitam, Bluester Biasa, Betok , Enhalus acoroides, Halophila ovalis, Halophila minor, Thalassia hemprichii, Cymodocea serrulata, Syringodium isoetifolium.
40-70%, nematoda dan crustacea,nekton




0 komentar:

Posting Komentar

jangan lupa komentar blog ana ya.. :)